"
Ketika kamu jatuh, aku ingin menjadi satu-satunya yang mengulurkan tangan untuk membantumu bangkit kembali.
Ketika kamu tersasar karena rumitnya dunia, aku ingin menjadi jalan kebenaranmu untuk terus kau tapaki.
Ketika kamu terlalu letih untuk menghadapi hari, aku ingin menjadi bisikan kata-kata cinta, sumber kekuatanmu.
Meski waktu dengan tak tahu malu terus bergerak maju, aku ingin menjadi satu-satunya yang duduk terdiam dan tersenyum di hatimu.
"
—
@rebornsin, twit pada 22/3/12
I’d Rather by Luther Vandross then suddenly appeared on my mind. :)
Sedikit tertegun ketika satu atau dua babak dalam lakon hidup kita memberi definisi baru tentang apa itu kita. Tertegun. Bukan terkejut. Karena memang sudah terlalu banyak definisi baru yang hadir mendadak. Definisi baru. Sebagai penghalusan dari perubahan tiba-tiba yang bagiku tidak masuk akal dan menafikkaan sejarah.
Anggaplah begini. Kau menonton sinetron yang ditayangkan tiap malam di stasiun televisi swasta. Ketika itu sang tokoh antagonis sedang berpura-pura baik pada tokoh protagonis. Berpura-pura. Namun karena kau hanya sekali atau dua kali menonton sinetron itu, kau awam pada penokohannya. Mana protagonis dan mana antagonis. Maka setelahnya kau percaya bahwa kebaikanlah yang ada pada sang antagonis. Lalu sinetron tersebut tak kau tonton lagi karena kau anggap terlalu penuh drama tak masuk akal.
Atau begini saja. Kau menonton salah satu pidato petinggi negeri ini yang berisi tentang keprihatinan terhadap tumpukan masalah bangsa. Kau terpukau olehnya. Kau merasa paham atas keprihatinannya. Kau menjadi simpati tapi tak tahu, atau lupa, entah berapa kali kata prihatin hanya menjadi diksi yang berulang kali digunakan hingga kehilangan makna.
Analogi yang terlalu jauh, katamu? Ya. Mungkin memang kita berada dalam ruang emosi yang berbeda. Kau menjadikan lupa sebagai atmosfer utama lakonmu yang dengannya kau bisa menciptakan definisi-definisi baru. Dengan melupakan, berarti melepaskan beban, begitu bukan? Aku hargai, walau bagiku sering perkara lupa itu hanya bentuk ketidakpedulian dan masa bodoh.
Aku memilih revisi untuk menjadi alur lakon yang aku mainkan. Aku tidak memberi definis baru. Aku mengembangkan definisi yang sudah ada sehingga sesuai dengan kondisi terkini.
Lupa dan merevisi. Sulit untuk dicari jalan tengahnya. Ya. Lebih baik kita menjalani lakon masing-masing saja. Ya. Mari sibuk dengan lakon masing-masing. Mungkin suatu hari kita bisa satu panggung sebagai tuan rumah dan tamu saja.
Aku sudah jengah. Jauh lebih dulu dari kau merasa yang sama, jika kau peduli.
Mari bicara dengan kata aku, kamu, mereka, dan kalian. Tanpa kita. Lupakan yang pernah ada, dan terima bahwa tak akan ada lagi.
Awalilah sesuatu dengan baik, agar baik pula kesudahannya. Sudah kita lakukan, hanya kita lupa samakan definisinya.
Semua akan menjadi sempit jika terlalu banyak masalah tak penting yang harus diurusi. Karenanya, harus cermat memilah.
Ditwitkan melalui akun @alvysyukrie pada 5/2/12
"Allah SWT. berfirman: “Jika kau tidak pernah merasakan kepedihan dan mengalami permasalahan, bagaimana kau tahu Aku Penyembuh? Jika kau tidak pernah berbuat kesalahan, bagaimana kau tahu Aku Pengampun? Jika kau tidak pernah terluka, bagaimana kau tahu aku Penghibur? Jika hidupmu sempurna, lalu mengapa kau butuh Aku?"
—
Hadist Qudsi (via horehorere
)
(via adhelwise)
"Di saat kamu benar-benar berpegang pada Allah, kamu kira Allah akan melepaskan tangan kamu?"
— Pegang tanganku Rabbi… (via sadiqahsiddiqah)
(Source: sidratulmuntaha, via sadiqahsiddiqah)